Mengejar “The Carpet of God” di Gunung Kurikoma

Kurikomayama yang terletak di wilayah Tohoku ini terkenal dengan pemandangan warna-warni dedaunannya di musim gugur dan dijuluki 神の絨毯, alias “The Carpet of God”, atau mungkin bisa diterjemahkan sebagai “Permadani Tuhan” dalam bahasa Indonesia. Spot ini sudah sebetulnya sudah saya masukkan ke dalam target jalan-jalan sejak beberapa waktu lalu, tapi rencana ke sana tak juga terlaksana.

Setelah tahun lalu belum juga kesampaian escape ke sini, tahun ini saya bertekad memantau perkembangan puncak musim gugur dari website-nya dan posting-an orang-orang di Instagram. Alhamdulillaah akhirnya jadi juga hiking ke gunung cakep ini! *walaupun masih rada sedih karena langit hari itu sungguh tak bersahabat, salah satunya gara-gara efek topan yang sedang mendekat 😭

Akses ke Kurikomayama

Kurikomayama bisa diakses dari beberapa titik. Pintu masuk untuk memulai hiking-nya pun ada beberapa. Jadi, kita bisa memilih rute dengan tingkat kesulitan sesuai kemampuan masing-masing *saya tentu saja mengambil rute yang relatif paling “gampang” 😁 Kalau masuk dari sisi Provinsi Miyagi, stasiun terdekat untuk mengakses jalan masuk hiking adalah dari Stasiun Kurikoma-kogen atau Stasiun Ichinoseki (stasiun ini sudah masuk Provinsi Iwate, tapi hanya satu pemberhentian shinkansen dari Kurikoma-kogen).

Akses paling praktis menuju dua stasiun ini tentunya dengan menggunakan kereta cepat shinkansen (sekitar 2,5 jam dari Tokyo). Nah, kebetulan mulai April 2021, JR East mengeluarkan beberapa tiket terusan yang bisa dibeli oleh orang asing yang tinggal di Jepang. Kalau sebelumnya JR Pass hanya tersedia untuk orang asing dengan visa kunjungan jangka pendek (sampai 90 hari), kali ini ada sekitar tiga jenis JR East Pass yang bisa dibeli warga asing yang tinggal di Jepang, cukup dengan menunjukkan paspor negara masing-masing.

Salah satu tiket terusan yang sudah saya incar ada JR East Pass Tohoku  seharga 20.000 yen yang berlaku selama lima hari berturut-turut. Dengan tiket ini, kita bisa naik kereta sepuasnya (termasuk shinkansen) dalam area yang di-cover di screenshot peta di bawah ini. Harganya memang lebih mahal dibandingkan tiket terusan yang tersedia dalam jangka waktu terbatas tahun lalu (JR East Welcome Rail Pass 2020), tapi tetap untung bangeet, bahkan kalau cuma dipakai satu kali pulang pergi Tokyo-Kurikomakogen yang ongkos satu arahnya saja sudah sekitar 12.500 yen! Tiket terusan inilah yang saya manfaatkan untuk naik shinkansen dengan biaya yang relatif lebih “menguntungkan” walaupun sebetulnya tetap terasa berat di dompet 😅

Rute yang di-cover JR East Tohoku Pass *screenshot dari website resminya

Dari stasiun shinkansen terdekat, biasanya perjalanan bisa dilanjutkan dengan bus menuju titik awal pendakian. Tapi sayangnya tidak semua bus beroperasi setiap hari, dan beberapa bus hanya menyediakan layanannya pada akhir pekan, sementara saya lebih suka memilih untuk berangkat pada hari kerja demi menghindari risiko keramaian *mumpung pekerja paruh waktu bisa lumayan fleksibel mengambil libur kan 😁

Maka hari itu saya memutuskan untuk nekat menyetir sendiri dari stasiun pemberhentian shinkansen. Jaraknya tak begitu jauh, sekitar satu jam perjalanan saja kalau tak terkena macet. Parkiran terdekat dengan titik awal hiking, yaitu Iwakagamidaira parking lot, bisa menampung sekitar 100 mobil dan di sini tidak dipungut biaya. Tapi kalau sedang musim ramai, terutama selama musim gugur, biasanya disiapkan parkiran tambahan Ikoinomura di lokasi lebih bawah dengan kapasitas lebih besar. Di Ikoinomura ini kita harus bayar sekitar 500 yen (untuk 2 orang) atau 1.000 yen (untuk 3-10 orang).

Karena tak mengejar jam keberangkatan shinkansen paling pagi, saya sebetulnya tak terlalu berharap bisa kebagian parkiran di Iwakagamidaira. Dan benar saja, ternyata di hari kerja pun parkiran di Kurikomayama ini cukup penuh! Saya pun harus ikhlas memberhentikan mobil di lokasi parkir tambahan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menumpang shuttle bus dari sana sampai ke titik awal hiking.

Honda Fit yang menemani saya hari itu
Parkiran Iwakagamidaira paling atas yang ternyata tak begitu penuh, tapi mungkin dibatasi aksesnya karena parkiran di bawah memang lebih luas

Kalau pergi sendirian, naik bus tentunya lebih praktis, hemat waktu, energi, dan biaya #eh 😁 Sebagai perbandingan, biaya sewa mobil yang saya gunakan selama 12 jam waktu itu sekitar 6.000 yen dan isi bensinnya “cuma” 300 yen saja! Sedangkan kalau menumpang bus Kurikomayama Koyogo, ongkos satu arahnya sekitar 1.600 yen “saja”. Tapi ya itu tadi, hari operasi dan jam keberangkatan busnya terbatas.

Rute hiking di Kurikomayama

Pilihan rute hiking di Kurikomayama ini ada sembilan dan bisa diakses dari berbagai arah. Bahkan dari titik masuk yang sama pun, kita bisa memilih rute berbeda sesuai dengan waktu yang tersedia, dan kemampuan fisik masing-masing tentunya 😁

Sembilan rute hiking di Gunung Kurikoma *screenshot dari website nya ini
Tempat istirahat sebelum pintu masuk Chuo trail

Saya sendiri waktu itu hanya sempat mengambil rute Chuo yang paling pendek dan paling ramah untuk pemula, dengan total waktu sekitar 3 jam pulang pergi. Untuk rute ini bahkan ada keterangan “ramah untuk keluarga”, lho! Sebenarnya awalnya saya berharap bisa mengalokasikan waktu sekitar 5 jam. Tapi karena cuma bisa parkir mobil di bawah, saya terpaksa harus mengikuti jadwal shuttle bus yang cuma ada sampai pukul 3 sore 😭 Jadi, saya harus turun gunung sebelum jam keberangkatan bus kalau tak mau terpaksa menambah jalan kaki sekitar 40 menit ke parkiran.

Walaupun disebutkan ramah untuk pemula, track di Chuo trail ini menurut saya cukup terjal di beberapa titik dan lumayan bikin ngos-ngosan juga *eh, ini mungkin karena saya kurang olahraga juga sih 😁 Yang jelas track-nya sudah sangat rapi dan tidak membingungkan. Hanya saja, karena jalannya lumayan berbatu, kita harus esktra hati-hati supaya tak terpeleset kalau hujan turun.

Sekitar setengah jam pertama hiking, saya masih berharap bisa kebagian langit biru di atas sana. Tapi tak lama setelah itu, awan mendung mulai berkumpul menutupi langit 😭 Walaupun sempat merasa putus asa, saya tetap membulatkan tekad untuk melanjutkan perjalanan sambil berharap cuaca sedikit membaik. Alhamdulillaahnya awan kelam sempat bergeser sedikiiit dan langit biru pun sempat nongol sebentaaat banget, dan kelihatanlah pemandangan cantik “Permadani Tuhan” itu *tapi pasti lebih cakep kalau latarnya langit biru sih, huuu…

Langit biru sempat nyempil sedikit 🤩
Puncak Kurikoma-yama sempat keliatan sebentaaar
Awannya mulai tebal lagiiii 😭

Setelah itu, awan mendung betah banget di langit dan tak mau bergeser lagi. Bahkan saat menjelang sampai ke puncak Gunung Kurikoma, kabut dan anginnya kencang parah sampai saya deg-degan takut terbang terhempas *lebay  😁 Tak sanggup lama nongkrong di puncak gunung, saya pun memutuskan untuk segera turun demi mengejar shuttle bus terakhir ke parkiran.

Kabut ini tak bergeser lagi sampai saya turun gunung
Walaupun tak berisiko nyasar, saya merasa lebih tenang kalau ada pendaki lain yang bisa saya “buntuti” 😁

***************

Pengalaman ke Kurikomayama kali ini bisa dibilang belum “sukses” seratus persen. Warna-warni “permadani” nya sih pas banget sedang puncak cakepnya, tapi langitnya terlalu kelam 😭 Sepertinya saya akan merencanakan hiking ke sini lagi tahun depan. Mungkin target berikutnya adalah mendaki dari pintu masuk Sukawa yang sepertinya juga cakep banget pemandanganya! Tapi trail yang ini ditujukan untuk level intermediate, jadi saya harus banyak-banyak latihan dulu supaya kuat mendaki 💪 Siapa tahu saya bisa sekalian menginap di Kurikoma-sanso dari sisi Provinsi Akita ini sambil menikmati onsen-nyaa *ngayal dulu 😁

Foto cakep dari website-nya, enam hari sebelum saya memutuskan berangkat! *pengennya liat pemandangan tanpa kabut beginiiii….
Spot ini sedang populer dengan sebutan “Mont-Saint-Michel” nya Kurikoma 😍 *fotonya minjem dari posting-an orang di YAMAP
*numpang masukin foto selfie dikit pas di puncak 😁

7 thoughts on “Mengejar “The Carpet of God” di Gunung Kurikoma

  1. I feel you banget mbak, di bagian yg ini: “Walaupun tak berisiko nyasar, saya merasa lebih tenang kalau ada pendaki lain yang bisa saya “buntuti”. Ak dulu pernah solo traveling ke Alishan. Berhubung sepi banget, sempet khawatir yg nggak enggak XD. Tp alhamdulillah akhirnya ada temen jalan, walaupun itu seekor inu :D.

  2. Seneng banget bisa baca lagi tulisan panjang mbak Novri (meskipun saya telat baca😬)

    Masha Allah indah banget mbak pemandangannya 😍😍
    Perlu saya temani mbak? Biar awannya tak mendung (ngayal aja dulu 😋)

    Semoga perjalanan bisa di ulang mbak, sampai sukses awan tersenyum menyambut kedatangan mbak Novri 🥰

    1. Hehe, mbak susah banget kayaknya mengumpulkan motivasi buat ngeblog ni, Ai 😅

      Duh, iya ni mungkin perlu ditemani Ai dulu biar langitnya cerah ya.. Semoga kapan-kapan bisa kesampaian, aamiiin…

      Makasih doanya, Ai! Mungkin taun depan mau mbak rencanain lagi 💪

      1. Tidak apa-apa mbak 🤗

        Aamiin mbak Novri, terima kasih untuk doanya.

        Sama-sama, mbak. Semoga tahun depan bisa terwujud. Aamiin 😊

        Tempat-tempat perjalanan yang mbak Novri kunjungi selalu membuat saya surprised dan ikut hepi 🥰

      2. Aamiiin, doa yang sama juga buat Ai, semoga rencana-rencana ke depannya dimudahkan selalu..

        Makasih selalu juga apresiasinya, Ai. Mbak jadi semangat cerita tentang tempat-tempat yang dikunjungi 💪

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s